tvnovellas.info Novels NOVEL GAJAH MADA PERANG BUBAT PDF

NOVEL GAJAH MADA PERANG BUBAT PDF

Wednesday, October 2, 2019 admin Comments(0)

gajah mada perang bubat 4 langit kresna hariadi pdf - mada perang bubat 4 langit kurinji malar novel review essay – february 3, perang bubat tragedi di balik. mada langit kresna hariadi filetype pdf - jawaban gajah mada perang bubat langit novel diary nokia pdf viewer pramugari seks not even a hint joshua . langit kresna hariadi filetype pdf - gajah mada 4: perang bubat oleh langit answers short stories,nnnnn a novel,nissan z20 engine service.


Author:DARLEEN FABBRI
Language:English, Spanish, Arabic
Country:Austria
Genre:Fiction & Literature
Pages:120
Published (Last):12.08.2015
ISBN:191-6-70088-904-3
ePub File Size:24.86 MB
PDF File Size:20.68 MB
Distribution:Free* [*Sign up for free]
Downloads:50830
Uploaded by: MIKAELA

Buku ke 4 dari 5 novel Gajah Mada karya Langit Khresna Hariadi. Kisah yang mengangkat perang Bubat, yang sangat sensitif di Jawa barat (Sunda) dan Jawa . Download as PDF Print Gajah Mada: perang bubat / Langit Kresna Hariadi Send to Email Gajah Mada: perang bubat / Langit Kresna Hariadi. langit kresna hariadi filetype pdf - gajah mada 4: perang bubat oleh langit geometric regional novel,geometric challenges gifted talented.

Pitaloka By Tasaro G. Keren banget penuturan di novel ini Penggunaan bahasanya pendek pendek dan mengalir lancar Bikin aku gak bis aberhenti bernapas Penggambaran setting dan visualisasi ceritanya juga detail Apalagi pas adegan pertarungan pedang Sahnara Pitaloka detail Aku kayak lihat film aja Penuturan cinta antara Pit Sign in to see more A. Rosyid Pitaloka By Tasaro G. Saya mencintai sosok Pitaloka yang masih bernama Sannaha di novel ini Kecantikan yang angkuh, pantang takluk, sarat harga diri, loyal, dan mencintai pengetahuan Saya hanya bertanya tanya, apakah guru pedangnya itu benar benar seorang Muslim, dilihat dari kutipan kutipan syairnya yang merupakan terje

Tradition describes her as a girl of extraordinary beauty. Patih Madhu, a matchmaker from Majapahit was sent to the kingdom to ask for her hand in royal marriage. Delighted by the proposal and seeing the opportunity to foster an alliance with Majapahit, the mightiest kingdom in the region, the king of Sunda gave his blessing and decided to accompany his daughter to Majapahit for the wedding. The Sundanese royal party arrived at the port of Hujung Galuh by Junk Sassana, a type of Javanese junk , which also incorporates Chinese technology such as iron nails alongside the use of wooden dowels.

In the Sunda king and the royal family arrived in Majapahit after sailing across the Java Sea by nine decked Junk ships Java: Jong sasanga wagunan , [7] landed at Hujung Galuh port, sailed inland through Brantas River and arrived at the river port of Canggu.

The royal party then encamped on Bubat square in the northern part of Trowulan, capital city of Majapahit, and awaited the wedding ceremony.

However Gajah Mada , the Majapahit prime minister saw the event as an opportunity to demand Sunda's submission to Majapahit overlordship, and insisted that instead of becoming queen of Majapahit, the princess was to be presented as a token of submission and treated as a mere concubine of the Majapahit king. The Sunda king was angered and humiliated by Gajah Mada's demand.

Humiliated, the Sunda party decided to go back home and cancelling the royal wedding, the Majapahit soldier however demand the hand of Sundanese princess, and put a siege upon Sunda encampment.

The battle and the suicide of the princess[ edit ] "Gajah Mada reported the defiance behavior of the Sundanese to the court. Bhre Prameswara of Wengker declared ready to fight. Thus, Majapahit troops surrounded the Sundanese. Not willing to surrender, the Sundanese chose to risk their lives. The battle is inevitable. Cheers rumbled over the sound reyong. Bhre Prameswara come to Bubat, unknowingly that there are still many Sundanese people who have not fallen.

No doubt his troops got attacked and ravaged. But he immediately did a counterattack. Being cornered, the menak [vi] charged to the south.

Pdf novel gajah bubat mada perang

Majapahit troops who resisted the attack won the victory. Sundanese who attacked to the southwest were killed. Like a sea of blood and a mountain of carcasses, there is no Sundanese left. It was uneven and unfair match, since the Sundanese party was composed mostly of royal family, state officials and nobles, accompanied by servants and royal guards. The numbers of Sundanese party were estimated at fewer than a hundred.

On the other hand, the armed guards stationed within Majapahit capital city under Gajah Mada commands were estimated at several thousand well-armed and well-trained troops. The Sundanese party were surrounded in the center of the Bubat square. Some sources mentioned that the Sundanese managed to defend the square and strike back the Majapahit siege for several times.

However, as the day went on the Sundanese were exhausted and overwhelmed. Despite facing the certain death, the Sundanese demonstrated extraordinary courage and chivalry as one by one, all of them fell. Despite courageous resistance, the royal family were overwhelmed and annihilated by the Majapahit army.

The Sunda king was killed in a duel with a Majapahit general as well as other Sundanese nobles with almost all of the Sundanese royal party massacred in the tragedy. Aftermath[ edit ] The Sunda Kingdom occupied western half of Java island, it was Majapahit 's western neighbour According to tradition, Dyah Pitaloka's death was mourned by Hayam Wuruk and the entire population of the Sunda kingdom who had lost most members of their royal family.

Later king Hayam Wuruk married to Paduka Sori, his own cousin instead. Pitaloka's deed and her father's courage are revered as noble acts of honour, courage and dignity in Sundanese tradition.

Her father, Prabu Maharaja Linggabuana Wisesa was revered by the Sundanese as Prabu Wangi Sundanese : king with pleasant fragrance because of his heroic act to defend his honour against Majapahit.

His descendants, the later kings of Sunda, were called Siliwangi Sundanese : successor of Wangi. Makin lama makin hilang semangat baca Gajah Mada, tapi kudu diselesaikan. Jul 20, Vera Maharani rated it it was ok Shelves: Oh Gajah Mada. Oh Perang Bubat. Ocehan tentang buku ini akan sangat panjang karena sebenarnya saya adalah fans seri ini dan saya punya ekspektasi tinggi terutama pada buku ini. Dari kelima buku seri Gajah Mada, buku inilah yang saya beli duluan. Tadinya saya pikir buku-buku dalam seri ini bisa dinikmati secara terpisah, dan dari semuanya, mungkin fragmen kisah Gajah Mada dalam Perang Bubat ini yang paling menarik buat saya.

Sebagai orang Sunda yang kebetulan menyukai sejarah, kisah Perang Bubat punya romantisme dan heroisme tersendiri.

Selalu menarik untuk membacanya, walau ditulis dari sudut pandang tokoh yang tidak sesuku dengan saya. Apa lagi Gajah Mada memegang peranan penting dalam pecahnya Perang Bubat. Bukankah dapat dikatakan bahwa Perang Bubat terjadi akibat Gajah Mada yang ngotot dengan sumpahnya, padahal Hayam Wuruk dan keluarga kerajaan Majapahit sudah setuju atas pernikahan Hayam Wuruk dengan Dyah Pitaloka walaupun Sunda tidak menjadi negara bawahan Majapahit?

Wah, keren banget pasti ini, membayangkan pergulatan batin Gajah Mada plus lika-liku politik dan diplomasi di masa itu. Saat saya membuka halaman pertamanya, saya agak kaget. Jadi saya meneruskan membaca daaan Saya pikir, mungkin Saniscara ini diperkenalkan di novel-novel sebelumnya, mungkin dia siapanya Gajah Mada.

Biar ngerti, mungkin saya harus baca dari buku pertama. Akhirnya buku keempat seri Gajah Mada ini nganggur dengan sabar di rak sementara saya menunggu tabungan saya cukup untuk membeli tiga buku prekuelnya. Akhirnya saat-saat berbahagia di mana saya bisa baca buku ini secara utuh tiba juga dan Saya akan mencoba menjelaskannya tanpa terlalu spoiler-y.

Dalam buku ini, terdapat beberapa subplot. Gajah Mada yang menjadi Mahamantrimukya Amangkubumi dan terfokus untuk mewujudkan Hamukti Palapa-nya diceritakan pada buku ketiga. Pradhabasu, mantan Bhayangkara yang juga sahabat Gajah Mada, mencari Sang Prajaka, anaknya yang mengalami kelainan jiwa.

Kemudian ada juga cerita tentang Riung Sedatu, seorang laki-laki yang amnesia dan mungkin diharapkan menjadi sosok misterius, namun cuma butuh sekejap untuk menebak siapa dia sebenarnya.

Kemudian dari pihak Sunda ada subplot kisah cinta Dyah Pitaloka dengan seorang pelukis bernama Saniscara. Sungguh menjanjikan cerita yang padat, bukan? Pada kenyataannya, sungguh mencengangkan saat melihat jumlah filler yang digunakan dalam cerita ini. LKH masih sangat suka bermain-main dengan nama dan berkisah dari sudut pandang tokoh-tokoh jelata. Entah berapa tokoh yang cuma dimunculkan sekilas dan perannya dalam cerita pun tidak penting-penting amat, namun diberi nama dan dipanjang-panjangkan tanpa memberi kontribusi berarti pada cerita secara keseluruhan.

Terlalu banyak nama, sampai ketika Perang Bubat dituturkan, saya nggak langsung ngeh mana yang prajurit Sunda dan mana yang prajurit Majapahit. Sekilas saya teringat adegan peperangan di buku lain yang lebih kolosal namun tidak sampai bikin saya merasa overload dengan nama-nama. Saya juga kadang pusing kalau penyebutan nama untuk satu tokoh berbeda-beda tanpa konteks yang jelas dalam suatu fragmen. Misalnya Sri Gitarja punya nama lain Tribuanatunggadewi dan beberapa lainnya.

Gelar-gelar itu digunakan secara bergantian dalam satu potongan cerita yang pendek. Untuk orang-orang yang belum akrab dengan nama-nama ini, rasanya yang dibicarakan lebih dari satu orang, padahal mah cuma satu, tapi gelarnya banyak, mana panjang lagi.

Pdf mada novel bubat gajah perang

Contoh paling mencolok ada di bagian awal cerita, saat keluarga Pradhabasu membicarakan Hayam Wuruk. Dalam satu paragraf, Hayam Wuruk disebut beberapa kali dengan nama yang berbeda. Yang menggelikan, di footnote tertera penjelasan bahwa itu adalah gelar Hayam Wuruk yang digunakan pada suatu situasi tertentu Lebih mengecewakan lagi karena saya merasa tokoh-tokoh utamanya jadi kurang tergarap.

Gajah Mada sebagai tokoh utama namanya kan yang jadi judul seri? Pergulatan batin, kelihaian politik, atau apa pun itu tidak tampak. Saya mengerti sumber sejarah yang mengisahkan temperamen Gajah Mada mungkin sangat sedikit, tapi di sini Gajah Mada terasa sangat flat dan LKH kurang mengambil licentia poetica dalam bermain dengan karakter ini.

Nggak jelas apa peran dia dalam kisah yang berlangsung. Beda dengan ketika kita membaca buku pertama, misalnya, di mana Gajah Mada tampil dengan berkarakter. Plot device amnesia dan kelainan jiwa digunakan di sini, dan untuk beberapa saat saya mengernyit. Saya merasa bahwa bagian ini agak kurang logis Saya bersyukur LKH melakukan banyak riset tentang sejarah dan kehidupan di masa itu, namun sayang risetnya tentang psikologi kurang mendalam kali ini.

Tibalah kita di puncak ocehan, mengenai penggambaran tokoh Dyah Pitaloka. Saya rasa bukan sesuatu yang salah bahwa Dyah Pitaloka digambarkan menyukai lelaki selain Hayam Wuruk.

Namun kisah cinta Pitaloka di sini sungguh sangat dipaksakan.

Novel Gadjah Mada Perang Bubat

Kita tidak diberi kesempatan untuk melihat mengapa Dyah Pitaloka yang Sekar Kedaton ini jatuh cinta pada Saniscara. Oke, Saniscara dapat melukis dengan sangat indah Langsung kesengsem aja gitu? Random amat. Come on, Pitaloka, you can do better than this!

Dyah Pitaloka hampir selalu digambarkan sebagai sosok yang berprinsip kuat, tapi kok di sini menye-menye amat. Memang dia tetap memilih mati daripada diperistri Hayam Wuruk dengan dipermalukan, tapi Terasa benar bahwa tokoh-tokoh dalam cerita ini adalah pion-pion yang digerakkan sesuai plot yang diinginkan LKH.

Tokoh-tokoh ini kehilangan 'kehidupan' yang masih bisa kita rasakan di buku-buku sebelumnya. Satu lagi, pada klimaks cerita, saat terjadinya perang Bubat, LKH memilih menceritakan ketragisan medan peperangan dari sudut pandang pemikiran binatang-binatang di sekitar Padang Bubat.

Saya udah mau teriak frustrasi. Saya mau tahu tentang guncangan jiwa dan kegetiran pihak-pihak yang berperang, bukannya deskripsi datar tentang siapa menusuk siapa, lalu pemikiran rajawali yang kebetulan terbang melintas, bahwa walaupun rajawali adalah burung yang buas, dia tidak pernah membunuh sesamanya.

Battle of Bubat

I couldn't care less about the eagles, please, please do show me human emotion! Argh, so frustrating. Juga jangan biarkan saya mencerocos tentang pemborosan kata-kata yang terjadi di buku ini Sekali lagi, saya menggemari seri ini secara keseluruhan, tapi buku ini bukanlah favorit saya, juga bukan penuturan Perang Bubat yang paling saya sukai.

Saya cuma berharap bahwa semua kekecewaan ini dapat terbayar tuntas pada buku kelima Madakaripura Hamukti Moksa. View 2 comments. Mar 28, Restu Aji rated it it was ok. Buku ini agak mengecewakan. Elemen sinetron-nya begitu kuat. Apa misalnya? Misalnya pas si Saniscara aka. Prajaka teriak-teriak di tepi telaga, "Dyah Pitaloka I Love you!!! Aku gak bisa berhenti tertawa. Yang terbayang di pikiranku pas membacanya adalah adegan khas ala sinetron Indosiar yang semi-semi India dan penuh warna-warni menyolok mata.

Elemen sinetron lainnya adalah hilang ingatannya Si Prajaka dan entah bagaimana tahu-tahu sampai di Sunda. Meski nanti coba Buku ini agak mengecewakan. Meski nanti coba dijelaskan di buku terakhir. Tapi terasa aneh, upaya nyambung-nyambunginnya agak terlalu dipaksakan.

Jadi, iya ini buku sinetronisasi-nya Perang Bubat. Meski begitu, paling tidak LKH punya sentuhannya sendiri untuk suatu kisah yang diyakini pernah terjadi.

Tapi ya begitu deh, banyak sekali indikasi tokoh-tokoh di dalamnya pengen selingkuh melulu. Nov 17, Didiet rated it liked it. Banyak intrik2 politik Majapahit yg salah menafsirkan niatan Pembesar Setelah Gajah Mada berhasil meyatukan sebagaian besar Kerajaan2 sekitar Nusantara dan menjadikan Majapahit sebagai Kerajaan Hindu Budha Terbesar di Asia tenggara, Beliau masih gusar terhadap kerajaan kecil yang berada di wilayah Barat Pulau Jawa.

Banyak intrik2 politik Majapahit yg salah menafsirkan niatan Pembesar2 kerajaan saat itu sehingga terjadilah Perang besar antara Prajurit Majapahit melawan rombongan pengantin dari sunda yg mengakibatkan matinya calon permaisuri Raja Majapahit.

Gajah Mada: Perang Bubat

Sep 23, Roos rated it liked it Shelves: Dibuku mengungkapkan sisi gelap seorang Gajahmada Juga cerita mengenai Sang Prajaka yang sempat Amnesia Dah ah View all 3 comments. Oct 10, Anna rated it it was amazing Shelves: Komunikasi itu penting Bossss Kita juga harus bisa lebih mendengar orang lain saat berada di puncak pimpinan.

Diktator gak selamanya bisa di terapkan dis emua bidang. Feb 17, Widyantoa rated it really liked it Recommends it for: This review has been hidden because it contains spoilers.

To view it, click here. Elok, karena aku suka sejarah Oct 01, Ulan imut marked it as to-read. Feb 28, Wijaya rated it really liked it. Gajah Mada yang sudah banyak melakukan perjuangan agar nusantara bersatu dengan Majapahit, masih belum bisa atau lebih tepatnya tidak disetujui untuk menaklukkan Sunda Galuh.

Hal ini lantaran masih adanya hubungan darah antara kerabat Raja Majapahit dan kerabat Raja Sunda Galuh. Selain itu yang menjadi alasan utama Gajah Mada dengan rencana pernikahan Pr Gajah Mada yang sudah banyak melakukan perjuangan agar nusantara bersatu dengan Majapahit, masih belum bisa atau lebih tepatnya tidak disetujui untuk menaklukkan Sunda Galuh. Walau kerabat kerajaan Majapahit sudah melarangnya namun tetap saja Gajah Mada ngotot akan menundukkan Sunda Galuh dan menjadikannya menjadi bagian Majapahit.

Dalam hal ini para petinggi kerajaan terbagi dua. Ada yang selalu setuju buta akan keputusan Gajah Mada tanpa memikirkan akibatnya dan ada pihak yang masih memikirkan apakah keputusan Gajah Mada adalah keputusan yang baik.

Pihak yang selalu setuju pada sikap Gajah Mada, khususnya tentang harus tunduknya Sunda Galuh pada Majapahit ternyata menyimpan sesuatu dibalik setiap persetujuannya. Namun, cinta Hayam Wuruk pada Dyah Pitaloka sudah tidak bisa dibendung. Sunda Galuh pun setuju akan pernikahan dua kerabat jauh ini.

Maka, Kerajaan Majapahit mengirim undangan agar rombongan Sunda Galuh datang pada rangkaian acara pernikahan yang akan diadakan besar-besaran dan dalam waktu yang lama di Majapahit halaman Gajah Mada tentu menjadi gusar akan pilihan rajanya.

Mada menganggap hal ini tameng Sunda Galuh agar tidak diajak bergabung menjadi bagian majapahit karena Raja Sunda Galuh telah menjadi istri raja Majapahit.

Namun Gajah Mada tetap pada pendiriannya, yakni ingin menundukkan Sunda Galuh. Ma Panji Elam dan kawan-kawan pun telah membuat sebuah konspirasi dengan mengirim seseorang ke Majapahit yang mengaku sebagai utusan Raja Linggabuana bahwa rombongan akan datang tujuh hari lagi.

Gajah perang pdf bubat mada novel

Karena utusan itu palsu, maka kedatangan rombongan Sunda Galuh di Majapahit yang lebih cepat dari kabar utusan menjadi masalah. Rombongan Sunda Galuh merasa heran mengapa kedatangan mereka yang seharusnya ditunggu-tunggu dan disambut dengan meriah malah sepi tanggapan bahkan ketika sudah sampai di Alun-Alun Bubat. Pihak Majapahit juga merasa ada kejanggalan yang terjadi. Maka persekongkolan para pembuat makar pun terjadi pada hari itu, rombongan Sunda Galuh tidak disambut dengan tarian tetapi dengan pasukan bersenjata.

Tak pelak terjadilah peristiwa sebuah tragedi yang disebut Perang Bubat. Perang yang sampai kini terkadang menjadi isu sensitif antara suku Jawa dan Sunda. Bahkan sampai terjadi tidak diperbolehkan pernikahan Jawa-Sunda.